Breaking News

Jejak kecil di lereng harapan, Di balik tenangnya alam Dusun 2 Labole, Desa Pallawa, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, tersimpan kisah perjuangan pendidikan yang jarang diketahui banyak orang.

BONE - Di balik tenangnya alam Dusun 2 Labole, Desa Pallawa, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, tersimpan kisah perjuangan pendidikan yang jarang diketahui banyak orang. Dusun yang berada jauh dari hiruk pikuk kota ini menjadi rumah bagi anak-anak yang tumbuh dengan semangat belajar di tengah segala keterbatasan.

Di dusun tersebut berdiri sebuah sekolah sederhana, SD Inpres 5/81 Pallawa yang di bangun pada tahun 2024. Sekolah kecil itu menjadi tempat pertama anak-anak mengenal huruf, angka, dan cita-cita. Namun kondisi sekolah tersebut masih jauh dari kata layak. Infrastruktur yang minim (terutama WC dan Listrik) serta keterbatasan tenaga pengajar menjadi tantangan yang setiap hari dihadapi.

Yang lebih menyentuh, sekolah ini hanya menyediakan pembelajaran hingga kelas 4. Ketika memasuki kelas 5 dan 6, para siswa harus melanjutkan pendidikan ke sekolah induk yang berada di pusat desa. Untuk sampai ke sana, anak-anak harus turun gunung melewati perjalanan yang tidak mudah demi bisa tetap bersekolah.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat belajar, tetapi juga perjuangan besar bagi anak-anak dusun. Mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan medan yang menantang, melewati jalan desa atau jalan poros kecamatan tellu limpoe dan jalur setapak perbukitan hanya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun di balik perjalanan panjang itu, semangat mereka tetap tumbuh.

Di sekolah sederhana itu terdapat sekitar 20 siswa yang setiap harinya datang membawa mimpi dan harapan besar. Mereka belajar dalam keterbatasan, tetapi tetap memiliki semangat yang luar biasa untuk menuntut ilmu.

Di sekolah itu pula hanya ada satu orang guru yang mengajar seluruh siswa dengan tingkatan kelas berbeda. Guru tersebut adalah **Ibu Rosmiati**, sosok yang menjadi harapan pendidikan bagi anak-anak Dusun Labole. Dengan penuh pengabdian, beliau tetap bertahan mendidik meski harus memikul tanggung jawab yang besar seorang diri.

Setiap hari, Ibu Rosmiati tidak hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi juga menjaga semangat anak-anak agar tetap percaya bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan mereka. Dalam keterbatasan fasilitas dan minimnya tenaga pendidik, beliau tetap hadir sebagai sosok guru, pengarah, sekaligus penyemangat bagi murid-muridnya.

Tidak hanya itu, Dusun 2 Labole hingga kini belum menikmati aliran listrik PLN. Masyarakat dusun hanya mengandalkan tenaga listrik surya untuk memenuhi kebutuhan penerangan sehari-hari. Di tengah keterbatasan tersebut, anak-anak tetap berusaha belajar dan mengejar cita-cita mereka dengan fasilitas yang sederhana.

Harapan masyarakat Dusun Labole sebenarnya sederhana, mereka ingin merasakan terang yang sama seperti daerah lain. Kehadiran listrik PLN menjadi harapan besar bagi masyarakat, bukan hanya untuk penerangan rumah, tetapi juga demi mendukung pendidikan anak-anak dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Kondisi SD Inpres 5/81 Pallawa menjadi potret nyata bahwa masih ada daerah pelosok yang membutuhkan perhatian serius dalam dunia pendidikan dan pembangunan. Anak-anak di dusun terpencil memiliki semangat dan mimpi yang sama seperti anak-anak di kota. Mereka juga berhak mendapatkan fasilitas yang layak, tenaga pengajar yang cukup, dan akses pendidikan yang lebih baik.

Karena pendidikan tidak seharusnya terhalang oleh jarak, medan, ataupun keterbatasan fasilitas. Di balik gunung dan jalan yang mereka tempuh setiap hari, ada harapan besar yang sedang diperjuangkan oleh 20 anak Dusun 2 Labole bersama Ibu Rosmiati untuk masa depan mereka.

Penulis 
Charles Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Sipil
Baca Juga
© Copyright 2022 - NALAR BANGSA