Breaking News

Aksi Tanpa Irisan: Ketika Penumpang Gelap Lebih Sibuk Menyetir Daripada Supirnya

​Aksi demonstrasi yang berawal dari penyampaian aspirasi masyarakat di Tugu Cakkelle kini kian memperlihatkan indikasi kuat adanya penunggangan oleh pihak-pihak yang haus panggung politik.

 Gerakan yang seharusnya menjadi benteng murni perjuangan rakyat berisiko terdistorsi ketika pusaran isu mulai disusupi oleh agenda-agenda pragmatis luar. Gejala ini menandai betapa rentannya sebuah gerakan moral ketika daya tawar sosialnya mulai dilirik oleh para pemburu momentum yang sebenarnya tidak pernah berdarah-darah membangun isu sejak awal.

​Kondisi ini makin diperparah oleh kepemimpinan di tingkat Pengurus Besar (PB) yang terkesan gamang dan tidak memiliki pendirian teguh. Sosok ketua PB yang sejatinya menjadi nahkoda utama arah gerakan justru tampak mudah disetir ke kiri dan ke kanan oleh bisikan serta tekanan pihak luar. Ketidaktegasan pucuk pimpinan ini menciptakan celah besar bagi oknum-oknum tak berkepentingan untuk masuk dan mendikte ke mana arus isu harus diarahkan.

​Keterlibatan oknum tertentu yang sama sekali tidak memiliki irisan langsung dengan isu yang diangkat maupun keanggotaan dalam organisasi terkait memicu pertanyaan besar di tengah publik. Ketika pihak luar yang tidak memiliki legitimasi organisatoris justru mengambil peran sentral—memanfaatkan kelemahan ketua PB yang gampang disetir—ada batas etika dan kemurnian gerakan yang secara sengaja dilompati. 

Kehadiran figur semacam ini tidak hanya mengaburkan batas antara aktivisme murni dan manuver pribadi, tetapi juga mengerdilkan nilai historis dari wadah perjuangan mahasiswa itu sendiri.

​Momentum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang melibatkan deretan anggota DPRD dari berbagai fraksi semakin memperjelas arah pergeseran angin politik tersebut. 

Alih-alih memfokuskan perhatian pada penyelesaian konkret atas tuntutan utama yang diusung, forum resmi itu rentan berubah menjadi arena panggung sandiwara. 

Kehadiran para elit politik yang dipadukan dengan kepemimpinan PB yang mudah diombang-ambingkan justru menciptakan panggung pencitraan demi mengamankan posisi tawar politik masing-masing menjelang kontestasi.

​Pergeseran fokus dari substansi masalah menuju pembentukan opini publik ini merupakan sinyal bahaya bagi keberlangsungan gerakan sosial di daerah. Tuntutan awal yang menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak perlahan tergerus oleh retorika-retorika manis yang dirancang khusus untuk meningkatkan popularitas figur tertentu.

 Akibatnya, masyarakat yang tadinya menaruh harapan besar pada aksi ini hanya mendapatkan tontonan konflik elite, sementara akar masalah utama yang disuarakan justru tertimbun di bawah karpet kepentingan.

​Kondisi seperti ini jelas mencederai nilai mendasar dari gerakan mahasiswa yang pada hakikatnya harus berdiri independen sebagai kekuatan moral (moral force). Ketika keberanian serta keringat para kader di lapangan dijadikan alat tekanan (political leverage) oleh oknum luar dan pimpinan yang dapat dikendalikan dari balik layar, kepercayaan publik terhadap kemurnian aksi akan merosot tajam.

 Mahasiswa yang sejatinya adalah aktor utama justru berisiko hanya dijadikan "prajurit garis depan" untuk menyukseskan skenario milik orang lain.

​Lebih jauh lagi, fenomena kepemimpinan yang disetir beserta "penumpang gelap" ini menciptakan preseden buruk bagi iklim berorganisasi dan pengkaderan di tingkat lokal. Jika oknum luar dapat dengan gampang mengendalikan ketua PB dan mendikte arah isu internal, maka struktur formal dan tradisi kritis organisasi akan kehilangan taringnya. Keabsahan (legitimasi) gerakan tidak lagi diukur dari kebenaran substansi atau proses organisatoris, melainkan dari seberapa mahir seseorang memanipulasi pimpinan dan panggung media.

​Oleh karena itu, evaluasi total dan kesadaran kritis dari seluruh elemen mahasiswa sangat diperlukan untuk segera memagari gerakan dari infiltrasi kepentingan politik praktis. Pimpinan organisasi harus didesak untuk kembali pada independensinya dan berhenti menjadi boneka yang ditarik ke kiri dan ke kanan oleh kepentingan pragmatis. Mengembalikan komando gerakan kepada jalur yang lurus, independen, dan berfokus penuh pada substansi tuntutan awal adalah langkah mutlak agar aspirasi rakyat tidak sekadar menjadi tangga tumpangan bagi para pemburu kekuasaan.
Baca Juga
© Copyright 2022 - NALAR BANGSA